Jumat, November 27, 2009

Indonesia emang gila

perasaan gue doang atau emang Indonesia lagi gila sekarang


-kasus "cicak" vs "buaya"
dah berapa bulan nih kasus ga kelar-kelar, udah muncul nama anggodo yang udah memenuhi persyaratan untuk dibui, eh kepolisian malah nganeh-nganeh, mana pake ngoceh segala anggodo ga pernah ninggalin kepolisian sedangkan orangnya sendiri jalan bebas di luar gitu(dan banyak saksi *dapet ginan gara-gara nguping bokap ngomongin politik*. dan selama kasus in berlangsung, kinerja kpk sebagai lembaga pemberantasan korupsi jelas menurun, dan ini memudahkan para koruptor untuk beraksi

-kasus bank century
kurang ngerti dah ama ginian... hahaha

-uan mau dihapus
ini dia yang pengen gue bahas disini, karena ini berpengaruh langsung ama kehidupan gue sebagai siswa.
emang gue lumayan kaget sih pas begitu liat tuh berita pertama kali di koran(ngintip koran yang dibaca bokap), tapi gue ga sepenuhnya seneng, karena uan itu sendiri jelas ada tujuannya.
dan gue juga setuju ama twitter temen gue tentang uan , dia bilang dengan caps lock kalo uan diapus bakal terjadi penumpuan mahasiswa. emang bener sih, itu emang salah satu 'manfaat' uan, untuk mengurangi jumlah mahasiswa yang masuk perguruan tinggi. emang menurut gue uan itu sendiri juga rada ga berperikemanusiaan, hasil belajar selama 3 tahun ditentukan hanya dari 3 hari.

analisa dikit ah, tentang baik buruknya uan diapus

efek baik:
-murid-murid terlepas dari stress ujian akhir
-hemat pulsa yang seharusnya dipakai mengirimkan bocoran
-hemat biaya
-hemat tenaga
-para guru pengawas juga terlepas dari beban mengawas
-murid bisa lebih fokus untuk tes masuk universitas

efek buruk:
-akan terjadi penumpukan mahasiswa
-sulit diketahui standar kepintaran negara

kalo dari analisa gue di atas tentu aja bakal keliatan kalo gue lebih pengen uan diapus, tapi menurut gue penghapusan uan itu sendiri bukan hal yang baik.

solusi dari saya
uan tidak usah diapus, tapi tujuannya diubah. jangan jadikan uan sebagai penentu kelulusan, biar uas yang menjadi penentu kelulusan, tapi jadikan uan sebagai pengukur kepintaran siswa.

nah, dari ide ini gue dapet suatu ide lagi, kalo sistem yang gue sebut di atas diterapkan, maka sistem penerimaan mahasiswa baru di universitas juga bisa berubah.

anggaplah kalau uan itu mempunyai nilai rata-rata, dan untuk masuk universitas diperlukan standar nilai rata-rata uan yang ditentukan. seperti kalo misalnya nilai rata-rata seorang siswa A adalah 65, dan standar nilai rata-rata uan untuk masuk (contoh) UI adalah 95, jadi si A itu ga bisa masuk UI, mungkin dia bisanya masuk universitas yang standar nilai rata-rata uannya <65. dan setiap gelombang yang ada standar nilai rata-rata uan itu dikurangi. terus murid yang memenuhi standar nilai rata-rata uan tsb mengikuti tes masuk seperti biasa.

itulah sedikit ide dari saya yang sedang dalam proses menuju berpikir terbuka dan analitis

regards
Abhirama

2 komentar:

Andudei Hardyanta mengatakan...

katanya UAN tetep ada, tapi bukan sebagai penentu. terus penentunya apa?

abhi mengatakan...

dari imajinasi spontan gue sih penentunya lebih baik dari sekolah masing-masing